about
● chat
● links
● archives
Friday, October 14, 2011
look through the mind to the object @ 8:26 PM
Saya adalah retretan selama 4 hari.
Saya adalah orang yang bermeditasi selama 4 hari.
Saya adalah si pemikir yang berusaha melepaskan dualitas antara subjek dan objek selama 4 hari.
Saya adalah pikiran saya sendiri, tak berbeda, selama 4 hari. (dan semoga seterusnya)
Selama itu, saya dalam proses melepaskan diri dari segala kelekatan, daya usaha, dan pergulatan / perlawanan batin yang datang bersamaan dengan datangnya objek.
Saya akan mencoba untuk membersihkan diri dari kotoran batin yang melekat dengan kesadaran penuh.
Mulai sekarang...
Saya akan selalu memegang kata-kata yang menjadi judul di atas. "Look through the mind to the object."
Saya akan selalu ingat, pikiran datang dan pergi, dengan begitu cepat. "Maka penting bagi kita untuk menyadari, apa yang terjadi dengan batin, dan biarkan pikiran berhenti."
Saya akan selalu melangkah dan menikmati setiap langkah. "Temukan kedamaian dan kebahagiaan dalam setiap langkah."
Saya akan memutuskan sesuatu dengan matang. "Jangan pernah putuskan sesuatu, atau mengganti keputusanmu, dalam keadaan galau, stress, atau biumbang."
Karena,
"Kamu lihat laut di foto itu? Itulah batin kamu. Objek datang seperti ketika kamu melemparkan stone kecil, kerikil, ke laut. Itu menimbulkan riak, ombak. Tapi kemudian batu itu lama-lama tenggelam dan hilang, tidak lagi memberi pengaruh. Tapi jika batinmu tidak menyadari adanya objek, selamanya batinmu tidak tenang."
Empat hari ini saya mengalami retret terbaik yang pernah ada dalam hidup saya, retret meditatif pertama dengan hasil yang cukup bagi saya. Kami diminta untuk silensium sepanjang hari. Tapi peraturan itu tidak terlalu ditaati. Kami semua bicara pelan-pelan. Tapi kurang lebih sebanyak 8 jam saya gunakan, saya optimalkan untuk bermeditasi. Dan bukan berkonsentrasi.
"Kita dari kecil sudah dilatih untuk berkonsentrasi. Ini hal yang mudah. Just sit easily, biarkan pikiran datang dan pergi. Setiap ada pikiran, sadari, dan biarkan berhenti. Ini menjadi sulit, karena kita sudah biasa berkonsentrasi, padahal kita tak membutuhkan itu. Maka, saya selalu mengingatkan, adakah bagian tubuhmu yang tegang. Karena ketegangan adalah manifestasi dari konsentrasi. Dari ego. Nantinya, konsentrasi kamu akan meningkat berkali lipat dibanding ketika kamu melatih konsentrasi kamu secara khusus."
Banyak yang saya alami dan saya pelajari. Meditasi bukan mengosongkan pikiran, tapi hanya membiarkan pikiran itu datang, sadari, lalu biarkan pikiran itu berhenti. Saya mencari keheningan, sebuah jarak antara pikiran yang satu ke pikiran yang lain. Lalu lewat jam terbang yang tinggi, keheningan akan lebih lama berlangsung. Dan kita tak akan berpikir jika itu tidak benar-benar dibutuhkan. Golnya adalah menjadi pribadi yang lebih tenang dan mengenal batin kita secara dalam.
Saya juga belajar bahwa saya dan pikiran itu tak berbeda. Saya sakit, karena pikiran saya sudah membentuk konsep yaitu sensasi yang saya rasakan adalah sakit. Ketika saya sadar, pikiran itu akan hilang. (Sadar di sini bukan consciousness tapi awareness.) Sakitnya juga akan menghilang. Atau bukan menghilang, tapi tidak mengganggu.
"Kalau kamu disakiti oleh orang lain, kamu sakit hati. Sadarilah bahwa kamu dan pikiran kamu tak berbeda. Ketika kamu sudah menyadari bahwa tidak ada beda antara si pemikir dan pikiran itu sendiri, tidak ada beda antara sakit hati dan orang yang tersakiti, tidak akan ada yang menjadi korban. Menangkap? Kamu, tidak akan merasa sakit, perasaan itu akan hilang, hilang, hilang perlahan-lahan."
Saya juga menemukan bahwa selama ini saya hanya melarikan diri dari objek yang saya rasakan. Bahkan malah cenderung menambah objek. Pantaslah saya selalu stress. Akhirnya saya belajar untuk tidak melawan dan tidak melekati objek. Saya juga diberi tahu bahwa manusia tidak bisa takut pada hal-hal yang tidak dikenal. Misalnya kematian, kita takut untuk melepas hal-hal yang melekat pada kita di bumi, bukan pada kematiannya.
Tentang trauma, "Kalau kamu bicara di depan semua orang, lalu kamu melakukan kesalahan dan ditertawakan, kamu malu. Tapi lalu berusaha tampil prima, menutupi bahwa kamu malu. Kamu tidak sadar bahwa kamu sedang merepresi rasa malu itu. Ketika kamu tampil lagi di depan umum, kamu trauma, takut akan ditertawakan. Kamu harus bisa menyadari rasa malu itu dan biarkan menghilang dengan sendirinya."
Jadi sebenarnya inti dari retret meditatif ini adalah melepaskan diri dari semua yang mengikat kita, membebani kita. Belajar untuk berpikir dan berbicara saat diperlukan. Belajar untuk berdoa dan memutuskan sesuatu secara mendalam. Belajar untuk tak lagi melihat sesuatu berdasarkan suka atau tidak suka. Belajar membedakan keinginan dan kebutuhan. Belajar membiarkan emosi yang terjadi, dengan terlebih dahulu melihat apa yang terjadi dengan batin, lalu biarkan berhenti.
"Maka tidak akan ada lagi si aku yang berpikir. Yang ada hanya keheningan dan kejernihan batin. Clarity. Dalam kejernihan, ada intelegensi yang akan berjalan bersama intelek."
Saya berjanji, "4 JANJI AKU" yang diucapkan ketika misa akan saya tepati meski itu butuh proses yang sangat lama.
Satu yang saya sesali, saya sebenarnya ingin menerima piala anggur ketika itu disodorkan oleh romo pada kami. Karena ini tidak akan terulang lagi sepanjang hidup saya. Mana ada romo yang mengangsurkan piala anggurnya setelah komuni pada umat?
Kata-kata tercetak miring adalah hasil konsultasi saya di hari kedua, ketiga, dan keempat. Berturut-turut saya berkonsultasi, karena saya butus penjelasan, atas apa yang saya alami.
Labels: a new life, school life