aboutchatlinksarchives


Monday, January 2, 2012
Why Not? @ 5:51 PM

Mau copas kata-kata Pepeng di Stand Up Show MetroTV Spesial Akhir Tahun, ah! Beliau ini lagi cerita tentang penyakitnya namanya Multiple Sclerosis. Terus orang-orang nanya, "Peng, lu gak marah sama Tuhan?" Beliau bilang, "Nggak. Wah saya nggak beranilah ngomong, 'Oh, God, why me?' trus kalo Allah bilang, 'Why not?', kan lebih gawat lagi, emang enak?"
Kata-kata beliau setelah itu yang gue suka banget, "Dia kan punya hak prerogatif yang begitu cantiknya... Jadi, acceptance, katanya, terima semuanya itu."
Nancep sedalam-dalamnya. Gue yang sehat aja kadang sering nggak terima apa yang Tuhan putuskan buat gue, padahal Pepeng yang lagi sakit aja bisa menerima. Nice words, from (I believe) a very wise man. :)

Tapi, ya, penerimaan itu memang sulit, kok. Apalagi, kalau kita udah usaha untuk mendapatkan sesuatu, yang akhirnya nggak kita dapatkan. Gue sendiri, kalo mengalami hal yang nggak sesuai keinginan gue, bisa marah-marah nggak jelas, yang akhirnya bikin gue jadi malu. Kenapa malu? Karena gue merasa, 'Anjir, nggak cuma gue juga kali yang kayak gini, dulu si A kan juga begini begini begini. Dia nggak bete-betean di depan gue.' Ya gue juga nggak tau, apa yang orang lain lakukan dalam menghadapi situasi yang nggak mereka inginkan, tapi yang pasti, gue menghargai banget kalo orang itu nggak menunjukkan emosinya, kemarahannya, kekecewaannya secara berlebihan. Nah, kalau gue menghargai orang yang seperti itu, kenapa gue nggak bisa menjadi orang yang seperti itu? Yang menerima, nggak berusaha menentang apa yang terjadi. Masak gue nggak mau menghargai diri gue sendiri? Jadi, belakangan ini, kalau mau nangis, mau marah atas apa yang menimpa gue, biasanya gue akan 'lihat kanan-kiri', adakah orang yang  lebih pantas gue hibur daripada menghibur gue? Adakah orang yang menurut gue lebih nggak beruntung dari gue tapi justru bersabar menghadapi gue? Kalau ada, stop. Semua punya masalahnya masing-masing. Keep it your own. Dan syukuri.

Terakhir, gue mau mengutip quotes juga dari recently-read-book, "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" oleh Tere-Liye halaman 196-197.

"Bahwa hidup harus menerima... penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti... pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami... pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. [...] Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah kemana. Dan kami akan mengerti, kami akan memahami... dan kami akan menerima."

Labels: , ,


about
kanya pratita.

18 years old and growing older.
a perfect day dreamer.
a moody blogger.
do random talks.
love to doodle everytime, mostly in classes
pretty messed up.

enjoy reading!







a melancholic distraction